PERNIKAHAN DALAM AGAMA BUDDHA

Pada suatu ketika Sang Buddha berada di jalan antara Madhura dan Veranja, dan sejumlah perumah tangga beserta istrinya berjalan di jalan tersebut. Kemudian Sang Buddha meninggalkan jalan itu dan duduk di bawah sebuah pohon. Melihat hal ini, para perumah tangga mendatangi Sang Buddha, membeir hormat, kemudian duduk di satu sisi. Dan Sang Buddha berkata kepada mereka:
Perumah tangga ada empat jenis pernikahan yaitu:
1. Raksasa hidup dengan Raksesi
Di sini oh para perumah tangga sang suami adalah orang yang membunuh makhluk lain, mengambil apa yang tidak dieberikan, melakukan perilaku seksual yang tidak benar, berbicara bohong, dan bermanja-manja dalam minuman anggur, minuman keras dan zat yang bersifat meracuni, yang merupakan landasan kelalaian, dia tidak bermoral, berwatak buruk, dia berdiam di rumah dengan hati yang terobsesi noda kekikiran, dia melecehkan dan menghina petapa dan brahmana. Demikianlah raksasa hidup dengan raksesi.
2. Raksasa hidup dengan Dewi
Di sini, oh para perumah tangga, sang suami adalah orang yang membunuh makhluk lain, mengambil apa yang tidak dieberikan, melakukan perilaku seksual yang tidak benar, berbicara bohong, dan bermanja-manja dalam minuman anggur, minuman keras dan zat yang bersifat meracuni, yang merupakan landasan kelalaian, dia tidak bermoral, berwatak buruk, dia berdiam di rumah dengan hati yang terobsesi noda kekikiran, dia melecehkan dan menghina petapa dan brahmana. Tetapi sang istri menghindari membunuh makhluk lain, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang tidak benar, berbicara bohong, dan bermanja-manja dalam minuman anggur, minuman keras dan zat yang bersifat meracuni, yang merupakan landasan kelalaian, dia tidak bermoral, berwatak buruk, dia berdiam di rumah dengan hati yang terobsesi noda kekikiran, dia melecehkan dan menghina petapa dan brahmana. Demikianlah raksasa hidup dengan Dewi.

3. Dewa hidup dengan Raksesi
Di sini oh para perumah tangga, sang suami adalah orang yang menghindari membunuh makhluk lain, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang tidak benar, berbicara bohong, dan bermanja-manja dalam minuman anggur, minuman keras dan zat yang bersifat meracuni, yang merupakan landasan kelalaian, dia tidak bermoral, berwatak buruk, dia berdiam di rumah dengan hati yang terobsesi noda kekikiran, dia melecehkan dan menghina petapa dan brahmana. Sedangkan istri adalah orang yang membunuh makhluk lain, mengambil apa yang tidak dieberikan, melakukan perilaku seksual yang tidak benar, berbicara bohong, dan bermanja-manja dalam minuman anggur, minuman keras dan zat yang bersifat meracuni, yang merupakan landasan kelalaian, dia tidak bermoral, berwatak buruk, dia berdiam di rumah dengan hati yang terobsesi noda kekikiran, dia melecehkan dan menghina petapa dan brahmana. Demikianlah dewa hidup dengan raksesi.
4. Dewa hidup dengan Dewi
Di sini oh para perumah tangga, sang suami adalah orang yang menghindari membunuh makhluk lain, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang tidak benar, berbicara bohong, dan bermanja-manja dalam minuman anggur, minuman keras dan zat yang bersifat meracuni, yang merupakan landasan kelalaian, dia tidak bermoral, berwatak buruk, dia berdiam di rumah dengan hati yang terobsesi noda kekikiran, dia melecehkan dan menghina petapa dan brahmana. Sedangkan sang istri persis sama dalam semua hal. Demikianlah dewa hidup dengan dewi.
“Inilah oh para perumah tangga, empat jenis pernikahan.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s