pemakaman langit

BURUNG PMAKAN BANGKAI
“Saat seseorang meninggal, jiwanya pergi, jadi buat apa menyimpan jenazahnya,” kata Garloji, seorang pendeta yang datang untuk mengamati upacara pemakaman langit. Seperti warga Tibet kebanyakan, namanya hanya terdiri satu kata. “Burung-burung itu, mereka pikir hanya makan saja. Padahal, mereka mengangkat jenazah itu dan menyempurnakan lingkaran kehidupan.” Pemakaman langit adalah satu dari tiga cara utama yang secara tradisional dilakukan oleh warga Tibet untuk mengembalikan jenazah ke bumi. Dua lainnya adalah kremasi dan pemakaman air. Kayu sangatlah langka di pegunungan Tibet yang gersang, jadi pembakaran jenazah hanya dilakukan bagi orang-orang kaya. Orang miskin yang tidak mampu menyelenggarakan kremasi atau pemakaman langit biasanya memakamkan jenazah di sungai.
BURUNG-BURUNG nasar bergerombol dan mengawasi dari lereng gunung. Di bagian lereng yang lebih rendah dan berumput, seorang pendeta Tibet meletakkan jenazah seorang wanita telanjang di tanah keramat dan menjauh untuk mengasah pisaunya di batu. Sambil menggumamkan doa, sekali dia mengelilingi patung Buddha, lalu memotong-motong jenazah wanita itu menjadi beberapa bagian. Mempertahankan tradisi yang telah terjadi di Tibet selama berabad-abad, sang pendeta memisahkan daging dari tulang. Dengan godam, dia kemudian meremukkan setiap tulang menjadi potongan yang sangat kecil, sampai-sampai terlalu mudah untuk ditelan burung nasar.
Di Lhasa, pemakaman langit dilaksanakan pada waktu subuh dan tertutup bagi orang luar. Tapi, di tempat seperti ini, di pedalaman yang seolah tak berbatas dan berjarak 500 mil dari kota terdekat, tampaknya tempat ini terlalu terpencil dan tak memiliki akses. Sehingga, tak seorang pun yang menyaksikan upacara pemakaman ini mengetahui aturan di atas. Cara pemakaman seperti ini mungkin berawal dari Bangsa Aria Iran kuno karena pernah dilaksanakan pada masa Iran kuno. Pemeluk Zoroaster Iran percaya bahwa dengan menempatkan jenazah di Menara Kesunyian tidak akan merusak tanah, air, atau api. Sebagian penduduk Iran tidaklah menetap d Iran, tetapi merupakan bangsa nomad. Satu di antaranya adalah Yuezhi yang dikalahkan bangsa Hun sekitar abad ketiga S.M. Mereka kemudian menyerap banyak pengaruh peradaban. Sebagian orang Yuezhi bermigrasi ke Afghanistan dan India, kemudian mengalahkan Bangsa Kushans. Kemudian, sebagian orang melanjutkan perjalanan ke Tibet dan mungkin mengenalkan tradisi pemakaman langit ini. Raja-raja Kushan adalah pendukung kuat ajaran Buddha dan tetap menyerap budaya Bangsa Yunani.
Sebenarnya, orang Tibet tidak mengenal istilah pemakaman langit. Warga Tibet menyebut ritual ini dengan sebutan “jhator” yang secara harfiah berarti “memberikan sedekah pada burung”. Seperti sebutannya, jhator dianggap sebagai sikap dermawan: jenazah dan kerabatnya memberikan makanan untuk makhluk hidup yang lain. Kedermawanan dan kearifan bagi seluruh makhluk hidup merupakan amalan penting dalam ajaran Buddha. Umat Buddha berharap bahwa dengan melakukan amal baik mereka akan mengumpulkan pahala yang akan memungkinkan mereka untuk lahir kembali dalam keadaan yang lebih baik. Meskipun banyak orang menganggap burung nasar adalah burung yang kotor dan mengerikan, menurut orang Tibet burung ini tidak pernah membunuh makhluk hidup sekaligus menerima apa pun yang didapatnya dari alam. Keduanya—tidak membunuh dan menerima apa adanya—selaras dengan ajaran Buddha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s